Kenapa saya bergabung dengan Partai NasDem?

Bacaleg DPR RI 2019-2024
Dapil Jawa Barat II
Kab Bandung – Kab Bandung Barat

Kenapa saya bergabung dengan Partai NasDem?

Saya bergabung dengan Partai NasDem pada tahun 2011, karena termotivasi akan jargon “Restorasi Indonesia”. Waktu itu secara pribadi saya menginginkan adanya suatu perubahan dalam diri dengan harapan bergabung untuk belajar dan bersilaturahim dengan banyak orang.

Seiring berpartai, waktu berjalan sedikitnya saya menerima ilmu baik secara teori modern maupun ilmu agama mengenai apa yang dimaksud dengan Kata “Restorasi”. dari banyak orang di Partai NasDem terutama dari seorang yang saya anggap sebagai guru yaitu Bpk H Salim Musa yang senantiasa selalu memberikan pencerahan bagaimana berpolitik praktis di rumah restorasi.

Restorasi kiranya perlu dipahami secara terminologis karena mengandung filosofi yang mendasar, berbeda dengan “Gerakan Perubahan” yang dapat langsung dicerna.

Restorasi berasal dari kata “Re” dan “Store” secara harfiah berarti menata ulang.

Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan Partai NasDem di tingkat DPC, DPD, DPW hingga DPP, maka saya menemukan bahwa arti Restorasi dalam terminologi Partai NasDem adalah “MEMPERBAIKI, MENGEMBALIKAN, MEMULIHKAN DAN MENCERAHKAN” sehingga empat aksi inilah yang menjadi gerakan Partai NasDem untuk Perubahan Indonesia, yang saat ini dapat dikatakan mulai berubah haluan dari tujuan cita-cita pendiri bangsa.

Persoalannya, mampukah kita melakukan perbaikan bangsa sementara diri kita belum kita perbaiki?, bagaimana kita mengembalikan Indonesia sesuai dengan harapan dan cita-cita pendiri bangsa, sedangkan diri kita belum kita kembalikan sesuai fitrah kita sebagai manusia? Bagaimana memulihkan dan mencerahkan Indonesia, sementara diri kita stagnan dan suram?

Dari persoalan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Restorasi harus dimulai dari diri kita sebagai indivdu yang akan menjadi agen perubahan bangsa. Dan Me-Restorasi Diri berarti Memperbaiki, Mengembalikan, Memulihkan dan Mencerahkan pribadi kita menjadi sosok yang bermanfaat bagi sesama.

Memperbaiki Diri

adalah memahami dan menyadari diri kita (keburukan dan kekurangan-nya) dan memiliki motivasi untuk perbaikan. Dalam istilah Islam disebut “Muhasabah” atau mengevaluasi diri, sebagaimana Hadist Rosululloh saw.
اِذَا أَرَدَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْراً فَقَّهَهُ فىِ الدِّيْنِ وَ زَهَّدَهُ فِى الدُّنْيَا وَ بَصَّرَهُ بِعُيُوبِ
(Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, maka Dia akan memberi pemahaman dalam agama, menjandikan zuhud di dunia dan memperlihatkan aib-aib (cacat) dirinya.) (HR.Abu Na’im )
Paham dan sadar akan keburukan dan kekurangan diri kita, diperlukan motivasi untuk melakukan perbaikan sebab bisa jadi kita sadar dan paham tapi enggan melakukan perbaikan.

Motivasi inilah yang harus kita bangkitkan melalui pengembalian jati diri kita sebagai mahluq Tuhan.

Mengembalikan Diri

Adalah mengembalikan jati diri kita sebagai mahluq Tuhan berarti memahami tujuan kita diciptakan.

Allah menyatakan dalam Al Qur’an :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Dengan menetapkan Tujuan Hidup adalah Ibadah, maka target yang kita capai adalah keridloan NYA, atau diri kita bisa diterima disisi NYA. Sehingga apa yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia.

Berbeda bila tujuan hidup adalah Dunia, Kekuasaan, Kesenangan Dunia, maka ketika tercapai akan hilang dalam sesaat dan bila tidak tercapai akan terjadi degradasi mental dan kedua-duanya menjadikan hidup kita sia-sia.

Dengan menetapkan tujuan hidup beribadah ; menjadi dorongan bagi kita untuk berbuat kebaikan, dan menciptakani kemakmuran di muka bumi.
Memulihkan Diri

Dalam praktek kehidupan, meski telah menetapkan tujuan hidup sebagai Ibadah, seringkali menemukan berbagai bentuk persoalan yang menjadikan diri kita lemah,malas dan tak bergairah. Maka diperlukan energi untuk memulihkan.

Energi adalah kekuakatan pada diri yang tidak tampak yang mampu melakukan perubahan. Contoh: karena Energi “Cinta” seseorang mampu berbuat apa saja. Karena ada Energi “Tuhan” seseorang tenang/tabah meski dilanda berbagai cobaan.

Untuk memulihkan energi diperlukan Keihklasan.

Ikhlas adalah melakukan perbuatan tanpa pamrih dan semata mata ibadah sesuai tujuan semula.

Keihklasan dapat dilatih dengan cara :

1. Niat ( dengan menghadirkan Tuhan di dalamnya)
2. Memahami bahwa pahala perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas tidak sia-sia,akan kembali kepada diri kita dalam bentuk yang berbeda dan bahkan lebih baik sesuai Janji Allah swt.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَن مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan (Qs;An Nahl( 16):97)

Seorang Fisikawan Isaac Newton menyatakan “ Energi di dunia tidak hilang hanya berubah bentuk” contoh : air menguap menjadi awan dan turun menjadi hujan, teori ini berlaku untuk amal kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas.

3. Tidak takjub kepada diri sendiri

4. Bergaul dengan orang-orang yang ikhlas

Mencerahkan Diri

Mencerahkan diri berarti menjadikan diri kita sosok yang cerah dan mencerahkan, dan tanpa kita sadari orang lain-pun akan ber simpati kepada kita.

Hal ini dapat dilakukan dengan :

1. Memiliki Filosofi hidup “Memberi dan Berbagi”

2. Memiliki Jiwa Empati

Empati adalah sikap mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain didasarkan atas rasa kasih sayang dan welas asih
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“ Sebaik baik Manusia yang paling bermanfaat bagi manusia”

مِنْ أَفْضَلِ اْلعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى اْلمـُؤْمِنِ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا تَقْضِي لَهُ حَاجَةً تُنَفِّسُ لَهُ كُرْبَةً
“ Diantara amal yang Utama adalah memasukkan kebahagiaan kepada seorang mukmin, membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan melonggarkan satu kesusahan darinya”. [HR al-Baihaqi]
www.erwinyudapranata.com

Leave a Reply